Raja Samaratungga: Sosok Pendiri Candi Borobudur di Masa Kerajaan Mataram Kuno

Raja Samaratungga: Sosok Pendiri Candi Borobudur di Masa Kerajaan Mataram Kuno
Ilustrasi Raja Samaratungga: Sosok Pendiri Candi Borobudur di Masa Kerajaan Mataram Kuno/Pixabay

KABAR JAWA – Candi Borobudur merupakan peninggalan agung dari Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun pada masa Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra.

Simak sejarah, proses pembangunan, serta penemuannya hingga ditetapkan sebagai warisan dunia UNESCO.

Candi Borobudur adalah salah satu warisan peradaban terbesar yang dimiliki Indonesia sekaligus monumen Buddha terbesar di dunia.

Lokasinya berada di Magelang, Jawa Tengah, dan hingga kini masih digunakan sebagai pusat peribadatan umat Buddha.

Sejarah panjang pembangunan candi ini erat kaitannya dengan kejayaan Kerajaan Mataram Kuno yang berlandaskan agama Buddha.

Menurut berbagai sumber sejarah, sosok yang diyakini sebagai pendiri Candi Borobudur adalah Raja Samaratungga, seorang raja dari Dinasti Syailendra.

Dinasti ini dikenal sebagai salah satu dinasti besar yang berhasil membawa Mataram Kuno menuju masa keemasan, baik dalam bidang politik, keagamaan, hingga kebudayaan.

Bukti Sejarah yang Menguatkan

Sejarawan menghubungkan pembangunan Borobudur dengan beberapa prasasti penting, seperti Prasasti Karangtengah atau dikenal juga dengan Prasasti Kayumwungan, serta Prasasti Tri Tepusan.

Dalam penelitiannya, sejarawan Belanda J.G. de Casparis menafsirkan bahwa nama “Jinalaya” yang disebut dalam prasasti tersebut merujuk pada Candi Borobudur.

Pendapat ini juga diperkuat oleh arkeolog Indonesia, Soekmono, yang terlibat dalam proses pemugaran candi. Menurutnya, istilah tersebut menunjuk pada sebuah bangunan agung sebagai lambang kebesaran Buddha di Jawa.

Raja Samaratungga dan Dinasti Syailendra

Raja Samaratungga memimpin Kerajaan Mataram Kuno setelah menggantikan ayahnya, Sri Dharmatungga.

Masa pemerintahannya dikenal sebagai periode keemasan Dinasti Syailendra, di mana ajaran Buddha Mahayana berkembang pesat.

Selain menaruh perhatian besar pada bidang agama, Dinasti Syailendra juga mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, seni, dan arsitektur. Puncaknya terlihat dari dimulainya pembangunan Candi Borobudur yang kemudian menjadi simbol kejayaan kerajaan.

Menariknya, penyelesaian pembangunan candi ini tidak terjadi dalam satu generasi. Setelah Raja Samaratungga wafat, proyek besar tersebut diteruskan oleh putrinya, Pramodawardhani, yang menikah dengan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya.

Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan politik sekaligus akulturasi antara dua dinasti besar di Jawa kala itu.

Proses Pembangunan Candi Borobudur

Pembangunan Borobudur diperkirakan berlangsung sejak akhir abad ke-8 hingga awal abad ke-9 Masehi, atau sekitar tahun 775–832 M. Para ahli menduga pengerjaan candi memakan waktu hampir satu abad dan melibatkan ribuan pekerja yang bekerja secara gotong royong.

Tahap awal pembangunan dimulai dengan meratakan tanah di atas bukit. Setelah itu, batuan andesit disusun menjadi struktur raksasa dengan sembilan tingkat. Susunan ini terdiri dari enam teras berbentuk persegi dan tiga teras berbentuk lingkaran, yang berpuncak pada sebuah stupa utama di bagian atas.

Secara filosofis, tingkatan candi menggambarkan perjalanan spiritual menuju pencerahan, yang dibagi menjadi tiga lapisan:

  1. Kamadhatu – melambangkan dunia keinginan manusia.
  2. Rupadhatu – dunia bentuk atau materi.
  3. Arupadhatu – dunia tanpa bentuk, tempat kesempurnaan spiritual.

Selain strukturnya yang megah, Borobudur juga dihiasi 2.672 panel relief yang menggambarkan ajaran moral, kehidupan masyarakat, hingga kisah perjalanan Sang Buddha. Ada pula 504 arca Buddha yang ditempatkan di berbagai titik candi, menjadikannya sebagai ensiklopedia batu terbesar tentang ajaran Buddha Mahayana.

Penemuan Kembali Borobudur

Seiring runtuhnya Mataram Kuno, Borobudur sempat tertimbun oleh material vulkanik dan tertutup pepohonan lebat. Baru pada tahun 1814, candi ini ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa.

Raffles menugaskan seorang insinyur Belanda bernama H.C. Cornelius untuk melakukan penelitian awal. Beberapa dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1835, usaha pembersihan dilakukan oleh Hartmann, yang kemudian menemukan berbagai artefak seperti arca Buddha dan benda bersejarah lainnya.

Pada tahun 1885, J.W. Ijzerman membuka bagian dasar candi dan mendapati relief Karmawibhangga yang terdiri dari 160 panel, semakin menguatkan nilai historis sekaligus filosofis dari candi ini.

Borobudur Sebagai Warisan Dunia

Dengan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang luar biasa, UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1991. Hingga kini, Borobudur bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga pusat ibadah umat Buddha, terutama pada perayaan Waisak yang setiap tahun diperingati dengan khidmat.

Candi Borobudur adalah bukti nyata kecanggihan arsitektur dan spiritualitas masyarakat Jawa pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Pembangunannya yang dimulai pada masa Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra hingga diselesaikan oleh Pramodawardhani, memperlihatkan kesinambungan peradaban yang menakjubkan.

Dengan relief yang sarat makna, struktur megah yang mencerminkan perjalanan spiritual, hingga statusnya sebagai warisan dunia, Borobudur tidak hanya sekadar bangunan batu, melainkan simbol peradaban yang masih hidup hingga kini.

***

https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2025/08/borobudur-2166750_1280.webp
News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door