
KABARJAWA – Pemerintah Kota Yogyakarta bergerak cepat mencegah stunting dengan strategi dramatis. Pemkot Yogyakarta melibatkan berbagai korporasi sebagai orang tua asuh untuk memastikan calon pengantin (catin), ibu hamil, dan ibu pasca bersalin di Kota Gudeg ini tidak luput dari perhatian.
Pemkot Yogyakarta meluncurkan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting). Program Genting ini menegaskan bahwa mencegah stunting membutuhkan kerja sama lintas sektor, tidak hanya mengandalkan pemerintah saja.
Target Zero Stunting
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan pihaknya menargetkan zero new stunting atau tidak ada lagi tambahan kasus stunting baru di wilayahnya.
Ia meminta semua pihak fokus sejak hulu hingga hilir, mulai dari catin, ibu hamil, hingga bayi di bawah dua tahun (baduta).
“Kami harus memastikan baduta dipantau ketat, berat badannya naik, tinggi badannya bertambah. ASI eksklusif itu wajib. Kami pastikan ibu menyusui mendapat PMT berupa protein hewani seperti telur dan ikan lele,” tegas Hasto.
Data terbaru menunjukkan hingga Juli 2025, Kota Yogyakarta memiliki 24 calon pengantin, 111 ibu hamil, dan 41 ibu pasca bersalin yang membutuhkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Mereka menjadi sasaran utama pendampingan dan pemberian nutrisi agar tidak menambah angka stunting.
Hasto mengungkapkan, catin yang mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) atau anemia memiliki risiko tinggi melahirkan anak stunting.
Oleh karena itu, Pemkot Yogyakarta memantau kondisi mereka sebelum menikah dan memberi intervensi berupa PMT serta tablet tambah darah.
“Ibu hamil kami pantau ketat, khususnya yang KEK, anemia, maupun yang masuk kategori 4T, yaitu terlalu muda usia kehamilan, terlalu tua usia kehamilan, terlalu dekat jarak kehamilan, dan terlalu banyak kehamilan,” jelasnya.
Pemkot Yogyakarta Kerahkan Korporasi
Pemkot Yogyakarta tidak bekerja sendirian. Mereka menggandeng 10 mitra korporasi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menjadi orang tua asuh.
Mereka adalah PT Sari Husada Griya Mahardika, Radio Sonora, STIKES Bethesda, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Yogyakarta, Baznas Kota Yogyakarta, Wanita Katolik Republik Indonesia, BSI Maslahat, BPJS Ketenagakerjaan, Bank Jogja, dan Bank BPD DIY.
Pemkot Yogyakarta yakin program Genting bisa menekan angka stunting. Mereka memastikan setiap sasaran mendapat nutrisi yang cukup, pendampingan medis dan psikologis, serta edukasi yang memadai.
“Target kami jelas, zero new stunting di Kota Yogyakarta, tidak ada tambahan kasus baru. Semua harus bergerak bersama, mulai pemerintah, masyarakat, hingga korporasi,” kata Hasto.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, Retnaningtyas, memaparkan hingga Juli 2025 terdapat 613 sasaran yang sudah didampingi orang tua asuh. Rinciannya, 485 bayi di bawah dua tahun (baduta), 116 ibu hamil, dan 12 ibu menyusui.
“Semua sasaran dipantau oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK) di tiap kelurahan. Mereka menerima PMT selama dua hingga enam bulan. Kami memastikan perkembangan mereka tercatat rutin,” ungkap Retnaningtyas. (ef linangkung)
https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2025/07/photo_6053058330248726098_y.webp

