
KabarJawa.com – Jembatan Kabanaran kini berdiri di atas Sungai Progo, menghubungkan Kabupaten Kulonprogo di Kapanewon Galur, Kalurahan Banaran, dengan Kabupaten Bantul di Kapanewon Srandakan, Kalurahan Poncosari.
Struktur ini menjadi penghubung transportasi dua kabupaten sekaligus membawa kembali catatan sejarah Keraton Yogyakarta melalui nama yang dipilih langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Menurut Koordinator Substansi Hubungan Masyarakat Biro Umum, Humas, dan Protokol Setda DIY, Ditya Nanaryo Aji, penamaan tersebut berangkat dari alasan historis.
“Jembatan Kabanaran lahir sebagai simbol kesinambungan perjuangan, ketangguhan, serta semangat persatuan yang pernah berkobar di tanah yang kini menjadi kaki-kaki jembatan tersebut,” terangnya.
Nama Kabanaran merujuk pada kawasan yang memiliki keterkaitan kuat dengan perjalanan Pangeran Mangkubumi.
Kawasan Banaran—dahulu Kabanaran—menjadi pusat pertahanan ketika beliau melawan kolonial Belanda.
Di tempat tersebut pula para pengikut menobatkan Pangeran Mangkubumi sebagai raja bergelar Sunan Kabanaran pada 11 Desember 1749.
Peristiwa ini berlangsung ketika kondisi politik Mataram tidak menentu setelah kabar sakitnya Susuhunan Pakubuwana II sampai kepada para pendukung Pangeran Mangkubumi.
Penobatan dilakukan di Desa Kabanaran, di sebelah barat Kota Yogyakarta.
Para pengikut mengangkat beliau sebagai pemimpin tertinggi dengan gelar Sampeyan Dalem Sinuwun Kanjeng Susuhunan Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah, atau dalam sejumlah sumber disebut juga Sunan Kabanaran.
Pada masa itu kawasan Kabanaran berkembang menjadi kota kecil yang menjadi pusat aktivitas para pengikut Pangeran Mangkubumi.
Beliau memerintahkan pembangunan kraton, pertahanan, serta pemukiman. Kawasan ini tumbuh cepat dan ramai dengan pasar yang menyediakan barang murah, arena turnamen, dan perayaan besar seperti Garebeg Mulud pada 20 Februari 1750.
Para pemimpin wilayah di sekitar Mataram datang untuk menunjukkan kesetiaan, sehingga gelar Sunan Kabanaran melekat kuat sebelum akhirnya berubah menjadi Sultan Hamengku Buwono I setelah Perjanjian Giyanti 1755.
Makna Penamaan dan Relevansi Masa Kini
Ketika Sri Sultan HB X memilih nama “Jembatan Kabanaran”, penegasan yang ingin disampaikan adalah pentingnya menjaga ingatan masyarakat terhadap nilai sejarah kawasan tersebut.
Nama ini tidak hanya menandai lokasi, tetapi menghadirkan kembali semangat kebersamaan dan daya juang Pangeran Mangkubumi.
Menurut Ditya Nanaryo Aji, jembatan tersebut merupakan contoh pembangunan yang tetap mengacu pada nilai kepemimpinan Sunan Kabanaran.
Pembangunan infrastruktur bukan hanya tentang struktur fisik, tetapi juga tentang menjaga memori kolektif yang membentuk identitas masyarakat.
Keberadaan Jembatan Kabanaran mengubah kawasan yang dahulu menjadi basis pertahanan menjadi ruas penghubung vital antarwilayah.
Jembatan ini meningkatkan mobilitas masyarakat, mempercepat distribusi ekonomi, dan memperkuat akses antar-kabupaten.
Selain itu, penamaannya menyampaikan bahwa masa lalu dapat menjadi dasar bagi pembangunan masa depan.
Jembatan ini menjadi pengingat bahwa ruang publik modern dapat tetap terhubung dengan sejarah tempatnya.
https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2025/11/IMG_20251119_172035_242.webp
News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door

