
KABARJAWA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong tinggi. Dalam sepekan terakhir, volume kubah lava di sisi barat daya Gunung Merapi tercatat meningkat hingga mencapai hampir 4 juta meter kubik.
Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santosa, dalam laporan pemantauan periode 23–29 Mei 2025.
Kubah Lava Gunung Merapi Meningkat
Agus Budi menjelaskan bahwa analisis foto udara terakhir pada 12 Mei 2025 menunjukkan volume kubah lava barat daya mencapai 3.996.800 meter kubik, sementara volume kubah lava tengah tercatat 2.366.700 meter kubik. Meskipun aktivitas guguran terus terjadi, morfologi kubah tengah tidak mengalami perubahan signifikan.
“Perubahan kecil terpantau pada kubah barat daya akibat guguran material, “ujarnya.
Cuaca di kawasan Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari, meskipun siang hingga sore hari sering tertutup kabut. Pada 23 Mei 2025 pukul 06.00 WIB, petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan mencatat asap berwarna putih dengan tekanan lemah hingga sedang, dan tinggi mencapai 125 meter di atas puncak gunung.
Selama periode pengamatan, tim mencatat 75 guguran lava yang mengarah ke tiga aliran sungai. Di antaranya 12 kali ke arah hulu Kali Krasak sejauh maksimal 1.800 meter, 30 kali ke arah hulu Kali Bebeng dengan jarak maksimum 1.800 meter, 33 kali ke arah hulu Kali Sat/Putih sejauh maksimal 2.000 meter.
Kegempaan dan Deformasi Masih Aktif
Dalam sepekan, aktivitas kegempaan di Gunung Merapi masih tergolong tinggi. BPPTKG mencatat 4 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 914 kali gempa Fase Banyak (MP), 650 kali gempa Guguran (RF) dan 10 kali gempa Tektonik (TT).
Sementara itu, pemantauan deformasi menggunakan EDM dan GPS menunjukkan kestabilan jarak. Grafik deformasi menunjukkan tidak ada perubahan signifikan.
Hujan Minim, Tidak Ada Aktivitas Lahar
Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Kaliurang pada 23 Mei 2025, dengan intensitas 2,36 mm/jam selama 67 menit. Meski demikian, tidak ada laporan aktivitas lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi selama periode ini.
BPPTKG menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tinggi dan didominasi oleh erupsi efusif. Status gunung tetap berada pada level SIAGA (Level III). Suplai magma dari dalam tubuh gunung masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran.
Potensi bahaya saat ini meliputi guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya meliputi Kali Boyong sejauh maksimal 5 km, Kali Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Guguran dan lontaran material vulkanik ke sektor tenggara yang mencakup Kali Woro sejauh maksimal 3 km dan Kali Gendol hingga 5 km.
“Letusan eksplosif yang berpotensi melempar material hingga radius 3 km dari puncak,” tambahnya.
Agus Budi Santosa mengimbau kepada masyarakat dan pemangku kepentingan agar tidak melakukan aktivitas apapun di dalam wilayah potensi bahaya. Warga perlu waspada terhadap bahaya awan panas guguran (APG) dan lahar, terutama saat turun hujan di sekitar Merapi.
BPPTKG akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Merapi. Jika terjadi peningkatan aktivitas yang signifikan, status aktivitas akan segera ditinjau ulang. (ef linangkung)
https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2025/05/photo_6183802469088347182_y.webp

