Menjelang Rasulan di Gunungkidul, Warga Bolodukuh Lor Tempa Tombak Pusaka Sakral sebagai Simbol Pemersatu Leluhur

Menjelang Rasulan di Gunungkidul, Warga Bolodukuh Lor Tempa Tombak Pusaka Sakral sebagai Simbol Pemersatu Leluhur
Warga Bolodukuh Lor Tempa Tombak Pusaka/Foto: Istimewa

KabarJawa.com– Suasana menjelang tradisi rasulan di Dukuh Bolodukuh Lor, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, menjadi lebih sakral dan penuh makna budaya.

Warga bersama tokoh adat setempat secara khusus menempa sebuah pusaka berupa tombak yang mereka tetapkan sebagai simbol sakral padukuhan, Selasa (07/04/2026).

Pembuatan pusaka ini tidak hanya menghadirkan prosesi budaya, tetapi juga membangkitkan kembali nilai-nilai spiritual dan kebersamaan warisan turun-temurun oleh para leluhur masyarakat setempat.

Warga Bolodukuh Lor Bangkitkan Tradisi lewat Pusaka Tombak

Warga Bolodukuh Lor mendorong lahirnya pusaka tombak ini sebagai penanda identitas sekaligus simbol pemersatu seluruh elemen masyarakat padukuhan.

Dukuh Bolodukuh Lor, Amin Nugroho, menegaskan bahwa inisiatif ini muncul dari keinginan kuat warga untuk menjaga nilai tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Amin Nugroho menjelaskan bahwa tombak pusaka tersebut tidak hanya berfungsi sebagai benda simbolik, tetapi juga sebagai warisan budaya yang akan terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Pusaka ini kami buat sebagai simbol padukuhan. Harapannya bisa menjadi warisan untuk generasi selanjutnya,” ujar Amin Nugroho.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiran pusaka ini akan memperkuat rasa kebersamaan warga Bolodukuh Lor, terutama dalam momentum tradisi rasulan. Tradisi ini menjadi agenda tahunan penting di wilayah tersebut.

Proses penempaan pusaka tombak tersebut berlangsung di Besalen Brojo Aji. Ini merupakan tempat penempaan tradisional milik empu Godho Priyantoko.

Tempat tersebut berlokasi di Padukuhan Kajar II, Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul.

Besalen Brojo Aji menjadi saksi lahirnya pusaka yang sarat nilai filosofi tersebut. Suara tempaan besi yang berpadu dengan suasana khidmat menciptakan atmosfer yang tidak hanya teknis, tetapi juga spiritual.

Empu pembuat pusaka, Godho Priyantoko, memimpin langsung seluruh proses penempaan dengan penuh ketelitian.

Ia memastikan setiap tahap pengerjaan mengikuti tata cara leluhur yang telah lama ia pelajari dan lestarikan.

Ritual Sajen Mengawali Proses Penempaan Pusaka

Sebelum palu pertama ditempa ke besi panas, Godho Priyantoko terlebih dahulu melaksanakan ritual tradisional dengan menyiapkan sesajen.

Ia menjelaskan bahwa prosesi tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari doa dan harapan agar pusaka membawa kebaikan bagi masyarakat.

“Sebelum dibabarkan, kita menyiapkan sajen. Sesajen ini merupakan pengharapan yang diwujudkan dalam bentuk air dan bunga, yang melambangkan kesucian serta kedekatan diri kepada Sang Pencipta,” jelasnya.

Ritual tersebut menandai bahwa pembuatan pusaka tidak hanya melibatkan keterampilan fisik, tetapi juga dimensi batin yang dalam. Suasana hening menyelimuti area besalen ketika doa-doa mengalir sebelum proses penempaan.

Momen penempaan perdana pusaka tombak tersebut juga menghadirkan pemerhati budaya, RM Kukuh Hertriasning, yang akrab dengan sapaan Ndoro Aning.

Kehadirannya memberikan dimensi tambahan dalam prosesi tersebut karena ia turut menyaksikan sekaligus memberikan dukungan moral terhadap pelestarian tradisi.

RM Kukuh Hertriasning hadir untuk mberkahi proses pembuatan pusaka tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya Jawa yang masih dijaga dengan kuat oleh masyarakat Gunungkidul.

Kehadirannya juga mempertegas bahwa tradisi pembuatan pusaka masih mendapat perhatian dari kalangan pemerhati budaya.

Rasulan Tidak Sekadar Tradisi, tetapi Identitas dan Doa Bersama

Tradisi rasulan di Bolodukuh Lor selama ini menjadi momen penting yang mempertemukan warga dalam satu ikatan sosial dan spiritual.

Namun, dengan hadirnya pusaka tombak ini, makna rasulan berkembang menjadi lebih dalam dan simbolik.

Amin Nugroho menegaskan bahwa setelah proses penempaan selesai, warga akan mengarak pusaka tersebut dalam rangkaian kegiatan rasulan pada bulan April ini. Prosesi arak-arakan tersebut akan menjadi puncak simbolisasi kebersamaan warga.

“Saya berharap pusaka ini bisa dianggap sakral dan mampu mengayomi warga Bolodukuh Lor,” imbuhnya.

Warga Bolodukuh Lor berharap kehadiran pusaka tombak ini tidak hanya berhenti sebagai simbol seremonial. Namun, ini juga menjadi warisan budaya yang terus hidup dan memiliki nilai historis bagi generasi mendatang.

Mereka ingin menjadikan pusaka ini sebagai pengingat bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak hanya terletak pada pembangunan fisik. Akan tetapi, kekuatan juga terletak pada nilai, tradisi, dan spiritualitas yang menyatukan mereka.

Dengan semangat tersebut, tradisi rasulan di Bolodukuh Lor kini telah menjelma menjadi ruang pelestarian budaya yang hidup, sakral, dan penuh makna bagi masyarakat Gunungkidul. (ef linangkung)

https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2026/04/photo_6255634023296209408_y.webp

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch