
Sleman, Kabar Jawa – Kesuksesan dalam membangun bisnis tidak selalu berawal dari modal besar, pendidikan bisnis, atau peluang yang datang dengan mudah. Terkadang, sebuah usaha justru tumbuh dari keterpaksaan, keberanian mengambil risiko, dan kemauan untuk terus bertahan ketika keadaan tidak berpihak.
Perjalanan itulah yang dilalui Ardi Sahami, atau yang akrab disapa Haji Ardi, pengusaha arumanis asal Sleman, Yogyakarta.
Dari seorang sarjana yang kesulitan mencari pekerjaan di tengah krisis moneter hingga membangun jaringan distribusi arumanis lintas kota, kisahnya menjadi gambaran bahwa ketekunan dan strategi yang tepat dapat membuka jalan menuju kesuksesan.
Di balik nama Arumanis Haji Ardi yang kini menjangkau berbagai daerah, ada perjalanan panjang yang diwarnai pengalaman berjualan, menghadapi perubahan harga bahan baku, mengatur barang retur, hingga menjaga kepercayaan mitra penjualan.
Tahun 1999 menjadi salah satu fase paling menentukan dalam kehidupan Haji Ardi. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana ketika Indonesia masih menghadapi dampak krisis moneter 1997–1998. Situasi ekonomi yang sulit membuat mencari pekerjaan bukan perkara mudah.
Di sisi lain, ia telah memutuskan menikah sebelum wisuda. Kondisi tersebut membuatnya harus segera memikirkan cara untuk memenuhi kebutuhan hidup, meski pekerjaan yang didapat tidak sesuai dengan gambaran ideal seorang lulusan perguruan tinggi.
“Siapa sih sarjana yang ingin jadi sales? Enggak ada. Tahun 1999 saya lulus sarjana, mau pulang kampung malu karena belum punya pekerjaan. Tapi karena krisis moneter dan saya sudah menikah, pilihan yang tidak bisa terhindari lagi adalah jadi sales, walaupun itu berat,” kenang pria asal Flores, NTT tersebut.
Baginya, menjadi tenaga penjualan bukanlah pilihan yang sejak awal diimpikan. Namun, keadaan menuntutnya untuk bergerak. Ketika harga bensin dan berbagai kebutuhan melonjak akibat krisis, bekerja sebagai sales menjadi pilihan realistis agar tetap bisa bertahan.
Ia pun pernah menjual berbagai produk, mulai dari kacamata, tepung, hingga barang-barang lainnya. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal karakter pasar, memahami cara menawarkan produk, dan belajar menghadapi penolakan calon pembeli.
Namun, pengalaman berwirausaha sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum ia menyandang gelar sarjana.
Semasa kuliah, Haji Ardi pernah membuka warung mi rebus dan mi goreng. Ide itu muncul setelah ia terinspirasi oleh usaha burjo Sunda. Karena belum mampu membuat dan menjalankan usaha burjo sendiri, ia memilih berjualan makanan yang lebih dikuasainya, yakni mi.
Selama dua tahun ketika menjalani aktivitas di pesantren, ia menghabiskan waktu dari sore setelah kuliah hingga pukul 00.00 untuk berjualan di depan Pondok Pesantren Bait Hasyim, Jalan Lowanu, kawasan Krapyak, Yogyakarta.
Rutinitas tersebut mengajarkannya bahwa membangun usaha membutuhkan kesediaan untuk bekerja keras, bahkan ketika hasilnya belum seberapa. Pengalaman berjualan mi juga menjadi bekal awal sebelum akhirnya ia menemukan peluang yang lebih besar di bisnis arumanis.
Titik balik perjalanan Haji Ardi datang ketika ia mengenal kisah seorang pengusaha roti cokelat asal Gunungkidul bernama Joko.
Hal yang menarik perhatiannya bukan semata-mata produk yang dijual, melainkan cara Joko membangun usahanya dengan melibatkan pekerja dari latar belakang pendidikan berbeda. Karyawannya terdiri atas lulusan sarjana hingga lulusan sekolah dasar.
Bahkan, ketika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, karyawan yang memiliki gelar sarjana tetap bertahan di usaha tersebut.
Pengalaman itu membuka perspektif Haji Ardi mengenai dunia usaha. Menurutnya, bisnis dapat menjadi jalan untuk menciptakan pekerjaan sekaligus ruang bagi orang-orang dengan latar belakang berbeda untuk berkembang.
Pada saat itu, Haji Ardi masih bekerja sebagai sales arumanis. Dari tujuh sales yang ada di Yogyakarta, ia menjadi sales terakhir yang menjalankan pekerjaan tersebut.
Alih-alih menganggap posisinya sebagai keterbatasan, ia justru melihat peluang untuk membangun usaha sendiri.
Strateginya cukup sederhana, tetapi membutuhkan keberanian dan kemampuan mengelola orang. Ia mengambil produk arumanis dari pemasok, membayarnya, lalu membawa barang tersebut ke rumah. Setelah itu, ia menugaskan karyawannya untuk berjualan, sementara dirinya lebih banyak berperan sebagai promotor dan memperluas jaringan pemasaran ke luar kota.
Pola kerja tersebut menjadi langkah awal perubahan perannya, dari tenaga penjualan yang mengandalkan kemampuan menjual sendiri menjadi pengusaha yang membangun sistem distribusi melalui tim.
Ia mulai memahami bahwa pertumbuhan usaha tidak cukup hanya dengan menjual produk sebanyak-banyaknya. Pengusaha juga harus mampu membagi pekerjaan, membangun jaringan, serta menemukan pasar baru yang belum banyak digarap pesaing. Dari sinilah perjalanan Arumanis Haji Ardi perlahan berkembang.
Perjalanan bisnis Haji Ardi tidak terlepas dari persoalan permodalan. Seperti banyak pelaku usaha kecil dan menengah lainnya, ia harus mencari cara agar kegiatan usahanya tetap berjalan meskipun modal yang tersedia terbatas.
Dalam perjalanannya, ia kemudian memanfaatkan akses permodalan melalui koperasi yang bermitra dengan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi.
Haji Ardi menyebutkan bahwa usahanya telah bergabung dan bermitra dengan koperasi di bawah LPDB selama kurang lebih sepuluh tahun.
Ia juga mengungkapkan bahwa pada masa awal merintis usaha, dirinya belum mengenal LPDB. Modal yang digunakan ketika itu bukan sepenuhnya berasal dari uang pribadi, melainkan melalui pinjaman.
“Tapi dari awal dulu, saya belum kenal dengan LPDB, awalnya bukan modal sendiri, tapi minus ya, artinya saya pinjam,” ujarnya.
Bagi Haji Ardi, akses permodalan menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang mengembangkan usaha. Namun, modal saja tidak cukup. Dana yang diperoleh tetap harus dikelola dengan perhitungan matang agar kegiatan produksi dan distribusi bisa terus berjalan.
Kemampuan menjaga arus usaha, membaca kebutuhan pasar, serta mengatur penjualan menjadi bagian penting yang menyertai upayanya memperluas bisnis arumanis.
Dalam dunia usaha khususnya kuliner, kenaikan harga bahan baku dan perubahan daya beli konsumen kerap menjadi tantangan tersendiri. Ketika biaya produksi meningkat, pelaku UMKM biasanya menghadapi pilihan sulit yaitu menaikkan harga jual, mengurangi ukuran produk, atau mencari bahan baku yang lebih murah.
Namun Haji Ardi memilih tetap mempertahankan kualitas bahan baku sebagai salah satu prinsip bisnisnya. Ketika harga bahan baku naik dan daya beli masyarakat melemah, ia tidak serta-merta mengganti bahan berkualitas premium dengan bahan yang lebih murah. Ia tetap menggunakan tepung dari merek-merek terkenal demi menjaga konsistensi rasa produk.
Sebagai gantinya, ia melakukan penyesuaian pada harga maupun volume produk. Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan permintaan toko yang menjadi mitra penjualan.
Bagi Haji Ardi, menjaga rasa bukan sekadar urusan produksi, melainkan bagian dari membangun kepercayaan konsumen. Produk yang dibeli pelanggan hari ini harus memiliki kualitas yang tetap terjaga ketika mereka membelinya kembali.
Konsistensi itu juga menjadi pembeda di tengah persaingan. Ketika konsumen sudah mengenali cita rasa suatu produk, perubahan bahan baku yang terlalu jauh berisiko memengaruhi pengalaman mereka.
Karena itu, ia memilih mengatur strategi harga dan ukuran daripada mengorbankan standar bahan baku yang selama ini dipertahankan.
Prinsip lain yang selalu ia tekankan adalah ketekunan dalam menjalankan usaha. Menurutnya, pelaku bisnis tidak boleh mudah tergoda oleh sesuatu yang terlihat menjanjikan pada awalnya, tetapi belum tentu memberikan keuntungan dalam jangka panjang.
Bisnis perlu dijalani dengan kesabaran, perhitungan, dan konsistensi. Keputusan yang terlihat menguntungkan dalam waktu singkat belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi keberlangsungan usaha.
Selain menjaga kualitas produk, Haji Ardi memberi perhatian besar pada sistem penjualan, terutama melalui metode konsinyasi atau titip jual.
Sistem ini memungkinkan produk dipasarkan melalui toko tanpa harus selalu dibeli langsung oleh pemilik toko di awal. Namun, mekanisme tersebut juga membawa risiko, terutama ketika sebagian barang tidak terjual dan dikembalikan kepada pemasok.
Jika tidak dikelola dengan baik, barang retur dapat menumpuk dan membuat distribusi berikutnya tidak efisien. Karena itu, Haji Ardi menerapkan perhitungan yang terukur untuk menentukan jumlah produk yang dititipkan kepada setiap toko.
Ia menjadikan tingkat retur sebagai salah satu dasar untuk menentukan jumlah pengiriman berikutnya.
Sebagai ilustrasi, jika sebuah toko menerima 100 produk dan mengembalikan 50 produk, berarti tingkat retur toko tersebut mencapai 50 persen. Dengan kondisi seperti itu, jumlah barang yang dititipkan pada pengiriman berikutnya perlu dikurangi. Dalam contoh perhitungannya, jumlah titipan berikutnya cukup 60 produk.
Bagi Haji Ardi, pengelolaan retur bukan sekadar urusan administrasi. Perhitungan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga efisiensi distribusi dan keberlangsungan usaha.
Memperluas jaringan pemasaran menjadi salah satu strategi yang membawa Arumanis Haji Ardi menjangkau lebih banyak konsumen.
Ketika toko-toko kelontong di Yogyakarta mulai dipenuhi produk sejenis dan ruang untuk menambah titik penjualan semakin terbatas, ia tidak berhenti mencari peluang.
Ia justru mencoba masuk ke saluran pemasaran yang tidak selalu menjadi pilihan utama penjual arumanis. Produk ditawarkan ke rumah makan, kantin-kantin, toko buah, hingga apotek.
Strategi ini berangkat dari pemikiran bahwa peluang penjualan tidak harus selalu berada di tempat yang sama dengan produk pesaing. Selama ada calon konsumen dan produk berpeluang diterima, pasar baru layak dicoba.
Dalam memperkenalkan produknya, Haji Ardi juga menggunakan pendekatan promosi yang sederhana dan mudah diingat.
“Ini arumanis tempo dulu, bukan arumanis yang itu. Dibuka, dimakan, enak,” demikian kalimat yang digunakan untuk menawarkan produknya.
Cara promosi tersebut menonjolkan identitas arumanis yang ditawarkan sekaligus mengajak calon pembeli untuk mencobanya secara langsung.
Alih-alih hanya mengandalkan penjelasan panjang mengenai produk, ia memilih pendekatan yang lugas dan dekat dengan keseharian konsumen.
Seiring perkembangan usaha, Haji Ardi membangun tim kerja yang kini berjumlah sekitar 30 orang. Dalam merekrut dan membina karyawan, ia memegang prinsip yang disebutnya sebagai “anak bapak”.
Istilah tersebut menggambarkan pekerja yang loyal, memiliki dedikasi tinggi, dan tetap profesional dalam menjalankan tanggung jawabnya, sebagaimana karyawan yang diperlakukan sebagai bagian dari keluarga usaha.
Prinsip itu sekaligus menjadi pembeda dari istilah “anak mami”, yang menurut penggambarannya merujuk pada pekerja yang mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Bagi Haji Ardi, keberlangsungan bisnis tidak hanya bergantung pada pemilik usaha. Karyawan memiliki peran penting dalam memastikan produk sampai ke tangan konsumen, menjaga hubungan dengan toko, dan menjalankan distribusi secara konsisten.
Di wilayah Yogyakarta, Arumanis Haji Ardi memiliki delapan tenaga sales yang mengelola pasar secara merata. Pembagian wilayah ini membantu tim menjangkau pelanggan sekaligus menjaga aktivitas pemasaran di daerah asalnya.
Sementara itu, untuk pasar luar kota, ia memiliki tim yang menjalankan aktivitas distribusi dari Senin hingga Jumat. Para pekerja tersebut beristirahat pada Sabtu dan Minggu.
Jangkauan pemasaran Arumanis Haji Ardi kini meliputi hampir seluruh wilayah Jawa Timur, sebagian besar Jawa Tengah, serta sejumlah wilayah di Jawa Barat dan Jakarta.
Sebelum pandemi COVID-19, kapasitas produksi arumanisnya bahkan pernah mencapai ribuan potong per hari. Pada masa tersebut, produksi Arumanis Haji Ardi pernah menyentuh sekitar 5.000 hingga 6.000 buah setiap hari dengan berbagai varian.
Angka itu menggambarkan skala produksi yang pernah dicapai usahanya sebelum pandemi mengubah banyak aktivitas ekonomi dan pola konsumsi masyarakat.
Di balik kapasitas produksi tersebut, ada rangkaian pekerjaan yang saling berkaitan, mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, perekrutan tenaga kerja, hingga pengiriman barang ke berbagai daerah.
Karena itu, mempertahankan usaha dalam skala tersebut membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan membuat produk. Pengusaha juga perlu mengelola manusia, distribusi, serta hubungan dengan mitra penjualan secara berkelanjutan.
Selain menjalankan usaha arumanis, Haji Ardi juga dikenal sebagai Ketua UMKM Sleman. Ia turut menyebut adanya peran melalui perwakilan peraturan bupati (perbup) dalam ekosistem UMKM Sleman, yang menurutnya menjadi satu-satunya di Indonesia yang memiliki Poralkom UMKM berbasis perbup.
Pengalaman panjangnya dalam membangun usaha membuat Haji Ardi memiliki perhatian khusus terhadap cara pelaku UMKM mengelola keuangan dan sistem penjualan.
Salah satu hal yang ia soroti adalah praktik konsinyasi atau titip jual. Menurutnya, sistem tersebut perlu dikelola dengan hati-hati karena barang yang dititipkan belum tentu seluruhnya terjual. Tanpa pencatatan dan perhitungan yang tepat, omzet yang terlihat besar belum tentu mencerminkan keuntungan sebenarnya.
Pelaku usaha perlu mengetahui berapa nilai penjualan yang benar-benar terealisasi, berapa barang yang dikembalikan, serta berapa biaya yang harus ditanggung selama proses distribusi.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghitung pajak dan pembagian keuntungan secara cermat. Perhitungan tersebut harus didasarkan pada omzet bersih, bukan sekadar omzet kotor, agar pelaku usaha tidak keliru menentukan besaran kewajiban maupun keuntungan yang dapat dibagikan.
Kesalahan membaca angka penjualan, menurut prinsip yang ditekankannya, dapat membuat usaha tampak berkembang dari luar, padahal kondisi keuangannya belum tentu sehat.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi UMKM yang sedang memperluas jaringan pemasaran. Semakin besar jangkauan penjualan, semakin penting pula sistem pencatatan dan pengendalian keuangan yang tertib.
Bagi Haji Ardi, pertumbuhan bisnis tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya produk yang terjual atau luasnya wilayah distribusi. Kemampuan menjaga arus keuangan, mengendalikan risiko, mempertahankan kualitas, dan membangun tim yang solid juga menentukan apakah sebuah usaha mampu bertahan dalam jangka panjang.
https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2026/10/IMG20261013102028-1.webp
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
