Khutbah Jumat: Menyambut Tahun Baru Islam dengan Semangat Hijrah dan Perubahan

Khutbah Jumat: Menyambut Tahun Baru Islam dengan Semangat Hijrah dan Perubahan
Ilustrasi Khutbah Jumat: Menyambut Tahun Baru Islam/Pixabay

Kabar Jawa – Khutbah Jumat bertema tahun baru Islam ini mengajak umat untuk meneladani semangat hijrah Rasulullah sebagai inspirasi memperbaiki diri dan meningkatkan keimanan di awal tahun Hijriah.

Khutbah Pertama

Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menganugerahi kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti ajarannya hingga hari kiamat.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Hari ini kita berkumpul di mimbar Jumat yang mulia, bertepatan dengan datangnya tahun baru Islam, yaitu 1 Muharram 1446 Hijriah. Sebuah momentum penting yang patut kita renungi bersama. Pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka, melainkan momen refleksi diri. Di sinilah pentingnya memahami makna hijrah sebagai transformasi menuju kehidupan yang lebih baik.

Hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis. Ia adalah tonggak sejarah besar dalam Islam yang melambangkan perjuangan, pengorbanan, dan komitmen terhadap nilai-nilai tauhid. Hijrah menjadi titik balik yang mengubah arah perjuangan umat Islam, dari penindasan menuju kemenangan.

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 97:

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri ini.’ Malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah luas sehingga kamu dapat berhijrah?’ Maka tempat tinggal mereka adalah neraka Jahanam. Dan itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Ayat ini menunjukkan bahwa hijrah adalah bentuk tanggung jawab untuk meninggalkan keburukan menuju kebaikan. Maka, kita pun hari ini dituntut untuk berhijrah, tidak lagi secara fisik, tetapi secara spiritual dan moral. Hijrah dari kemalasan menuju kesungguhan, dari maksiat menuju taat, dari lalai menjadi sadar.

Jamaah yang berbahagia,

Dalam sejarah, Nabi Ibrahim juga berhijrah dari tanah kelahirannya menuju negeri lain demi menjalankan perintah Allah. Begitu pula Nabi Musa yang menyelamatkan umatnya dari kekejaman Fir’aun. Hingga akhirnya, Rasulullah menempuh perjalanan hijrah yang begitu berat demi menyelamatkan aqidah umat Islam. Semua ini menjadi bukti bahwa hijrah adalah sunnah para nabi.

Rasulullah dalam proses hijrahnya menunjukkan sifat amanah dan strategi yang luar biasa. Beliau menugaskan Sayyidina Ali untuk tidur di ranjangnya sebagai taktik agar tidak diketahui oleh musuh. Sayyidah Asma binti Abu Bakar dengan penuh keberanian mengantarkan bekal ke Gua Tsur. Dan sahabat Abu Bakar As-Shiddiq menemani Rasulullah sepanjang perjalanan, menjadi wujud dari kejujuran, loyalitas, dan keberanian.

Firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 40 menjelaskan:

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya dan dia adalah salah satu dari dua orang dalam gua. Ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’”

Inilah semangat hijrah yang harus kita hidupkan dalam diri kita. Bahwa dalam setiap langkah kebaikan, Allah akan senantiasa menyertai dan memberikan pertolongan-Nya.

Khutbah Kedua

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Kita bersyukur masih diberikan kesempatan menyambut datangnya bulan suci Muharram, bulan yang Allah muliakan di antara dua belas bulan dalam setahun.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Bulan Muharram adalah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah. Dalam surat At-Taubah ayat 36 disebutkan:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.”

Di bulan ini, kita dianjurkan memperbanyak amal kebaikan: berpuasa, bersedekah, memperkuat silaturahmi, serta memperbanyak istighfar. Rasulullah bahkan menyebut bulan Muharram sebagai “bulan Allah” (Syahrullah), menandakan betapa agungnya nilai spiritual dalam bulan ini. Salah satu amal yang dianjurkan adalah puasa di hari Asyura (10 Muharram), yang memiliki keutamaan besar yaitu menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan pentingnya menghargai waktu-waktu utama seperti Muharram. Waktu yang diberkahi harus diisi dengan amal saleh dan akhlak terpuji.

Bukan hanya memperbaiki hubungan vertikal kepada Allah, namun juga memperkuat ikatan sosial antar sesama. Di Indonesia, bulan Muharram sering dijadikan momentum peduli terhadap anak yatim dan kaum dhuafa. Ini adalah praktik nyata dari semangat hijrah: meninggalkan egoisme menuju kepedulian sosial.

Jamaah sekalian,

Mari kita manfaatkan tahun baru Islam ini sebagai awal perubahan diri. Hijrah bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan ajakan abadi untuk bertransformasi menuju pribadi yang lebih baik. Seperti sabda Nabi dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari:

“Orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah.”

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam jalan hijrah menuju ridha-Nya. Marilah kita songsong tahun baru ini dengan tekad memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan membangun umat yang lebih kuat dan mulia.

اللهم اجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Sumber Referensi:

  • Al-Qur’an al-Karim
  • Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali
  • Tafsir Al-Thabari
  • Hadis-hadis Shahih (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah)
  • dll

***

https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2025/06/raka-dwi-wicaksana-Jbk_Tce8Z1U-unsplash-2.webp