
KabarJawa.com– Dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan yang kian kompleks, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Gunungkidul mengambil langkah strategis.
Mereka melakukan penelitian dan pengembangan varietas padi unggul lokal Segreng Handayani. Upaya ini menjadi tonggak penting menuju kemandirian pangan berbasis potensi daerah.
Bappeda Gunungkidul menggelar paparan laporan akhir kegiatan penelitian dan pengembangan di Ruang Rapat 2 lantai 2 kantor Bappeda.
Kegiatan tersebut menandai puncak kerja sama penelitian antara Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dengan lembaga riset terkemuka, yakni Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN serta Pusat Riset Tanaman Pangan.
Kerja sama ini diperkuat melalui Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemkab Gunungkidul dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nomor 29/I/KS/03/2024.
Kolaborasi ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mengoptimalkan hasil riset untuk mendukung kemandirian dan keberlanjutan pangan lokal.
Fokus pada Ketahanan Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal
Kepala Bappeda Gunungkidul, M. Arif Aldian, menjelaskan bahwa tema utama penelitian tahun 2025 ini menitikberatkan pada ketahanan pangan.
Pemerintah daerah bertekad memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya lokal Gunungkidul.
“Gunungkidul sudah memiliki varietas padi unggul lokal yang telah dilepas dan bersertifikat melalui SK Menteri Pertanian RI Nomor 2226/Kpts/SR.120/5/2009 dengan nama Segreng Handayani. Varietas ini terbukti tahan kekeringan, berumur genjah, dan memiliki beras merah yang kaya gizi,” ungkap Arif.
Padi Segreng Handayani juga tahan terhadap penyakit blas karena jamur Pyricularia oryzae.
Keunggulan ini menjadi modal besar untuk dikembangkan lebih luas, terutama dalam penyediaan stok benih dan diversifikasi produk olahan berbasis beras merah.
Berdasarkan hasil penelitian Bappeda dan BRIN, dalam rentang waktu 2021–2024, luas tanaman padi Segreng Handayani di Gunungkidul rata-rata mencapai 8.975,015 hektare dengan kebutuhan benih mencapai 224,37 ton per tahun.
Namun, ketersediaan benih baru oleh produsen lokal sekitar 15 ton per tahun.Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat program pemenuhan kebutuhan benih agar masyarakat petani tidak bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Kami berkomitmen untuk mewujudkan kemandirian benih melalui riset terarah dan pembinaan kepada kelompok tani,” tegas Arif Aldian.
Kandungan Gizi Padi Segreng Handayani
Beras merah Segreng Handayani bukan hanya unggul di ketahanan tanaman, tetapi juga dalam kualitas gizinya.
Berdasarkan hasil uji laboratorium, beras merah ini memiliki kandungan berikut.
- Kadar air 13%
- Abu 0,78%
- Protein 7,64%
- Lemak 1,75%
- Amilosa 17,22%
- Amilopektin 44,23%
- Pati 61,47%
- Antosianin 3,44%
- Serat pangan 5,59%
Dengan Indeks Glikemik (IG) sedang 50,5, beras merah Segreng Handayani cocok untuk masyarakat yang memperhatikan kesehatan dan pengendalian gula darah.
Kandungan β-sitosterol (0,87%) dan stigmasterol (1,63%) menjadikan varietas ini kaya senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi tubuh.
Kandungan gizi tersebut bahkan lebih tinggi daripada beras merah lokal DIY lainnya seperti Sembada Merah, Mawar, maupun beras merah unggul nasional Inpari 24.
Hal ini membuka peluang besar bagi pengembangan diversifikasi olahan berbasis beras merah.
Sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan, tim peneliti bersama pelaku UMKM mulai mengembangkan berbagai produk olahan dari beras merah Segreng Handayani.
Inovasi itu mencakup beras instan, rengginan, mi kremes, flake, hingga cookies sehat.Langkah ini juga menjadi strategi efektif dalam penanggulangan stunting dan peningkatan gizi masyarakat.
Pemerintah daerah menargetkan produk berbasis beras merah ini dapat menembus pasar domestik hingga ekspor.
Melalui riset dan inovasi berbasis lokal, Bappeda Gunungkidul membuktikan keseriusannya dalam mewujudkan daerah yang tangguh dan mandiri pangan.
Padi Segreng Handayani menjadi simbol kebanggaan lokal sekaligus senjata strategis dalam menghadapi ancaman krisis pangan global.
“Dengan pengembangan benih dan diversifikasi olahan berbasis beras merah Segreng Handayani, kami optimistis Gunungkidul akan menjadi daerah yang tidak hanya mandiri benih, tetapi juga berdaya saing di tingkat nasional,” pungkas Arif Aldian. (ef linangkung)
https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2025/11/6084569010654613396.webp
News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door

