Peringatan 213 Tahun Kadipaten Pakualaman: Tradisi, Budaya, dan Kepedulian Sosial Bersatu dalam Satu Panggung

Peringatan 213 Tahun Kadipaten Pakualaman: Tradisi, Budaya, dan Kepedulian Sosial Bersatu dalam Satu Panggung
Peringatan 213 Tahun Kadipaten Pakualaman/Foto: Pemda DIY

KABARJAWA – Puro Pakualaman menggelar resepsi puncak peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-219 Tahun Jawa atau ke-213 Tahun Masehi pada Minggu (22/6/2025) di Kagungan Dalem Bangsal Sewatama.

Acara penuh khidmat ini mempertemukan ragam tradisi, semangat kebudayaan, dan kepedulian sosial dalam sebuah momentum bersejarah yang menyatukan masa lalu, kini, dan masa depan.

Peringatan 213 Tahun Kadipaten Pakualaman

Puro Pakualaman menata ulang sejarah panjangnya ke dalam serangkaian kegiatan megah. Putra sulung KGPAA Paku Alam X, BPH Kusumo Bimantoro, menjelaskan bahwa peringatan ini menegaskan eksistensi Kadipaten Pakualaman sejak resmi berdiri pada 22 Juni 1812 oleh KGPAA Paku Alam I.

“Kami telah mengawali rangkaian peringatan sejak akhir tahun lalu, tepatnya dengan nyekar ke makam para Paku Alam terdahulu pada 11 Desember 2024 di Astana Kotagede dan Girigondo,” ungkapnya di hadapan tamu undangan dan pewarta.

Resepsi ini tidak hanya menyajikan catatan sejarah, tetapi juga menampilkan berbagai perlombaan yang menyemarakkan semangat kebudayaan. Puro Pakualaman menggelar lomba macapat tingkat nasional pada 26 April 2025 di Pendopo Kepatihan.

Sebanyak 132 peserta dari berbagai daerah di Pulau Jawa bersaing dalam dua kategori, remaja dan umum. Perlombaan ini membangkitkan kembali kecintaan terhadap seni tutur tradisional yang sarat makna.

Tidak berhenti di situ, Puro Pakualaman turut menggelar lomba mewarnai motif batik khas Pakualaman pada 4 Mei 2025. Lomba ini menyasar anak-anak TK, SD, dan anak-anak istimewa berkebutuhan khusus se-DIY. Sebanyak 46 peserta TK, 48 peserta SD, dan 31 anak berkebutuhan khusus mewarnai dengan semangat dan antusias.

Pihak penyelenggara pun memperbolehkan orang tua mendampingi anak dalam lomba, sebagai bentuk pendekatan emosional yang menguatkan hubungan keluarga.

“Melalui lomba ini, kami ingin mengajak masyarakat memperkuat jalinan batin antara orang tua dan anak. Kasih sayang yang kuat akan melahirkan generasi yang tangguh dan berbudaya,” tegas BPH Kusumo.

Puncak Acara

Mengangkat tema Manggala Gati Wiwaraning Rat, peringatan tahun ini merujuk pada sengkalan Tahun Jawa Je 1958. Tema ini mengandung makna mendalam: pemimpin yang penuh perhatian adalah gerbang menuju kesejahteraan dunia.

Dalam konteks ini, Pakualaman menyampaikan pesan bahwa tradisi tidak boleh hanya jadi simbol—ia harus hidup, relevan, dan menyentuh kehidupan masyarakat luas.

Puncak acara juga menampilkan tarian istimewa dari Kawedanan Nitya Budaya. Dua tarian yang berjudul Mataya dan Langen Praja The Gateway of Java menggambarkan dinamika kepemimpinan dan harmoni masyarakat.

Tarian ini menggugah penonton, menegaskan bahwa warisan budaya dapat menjadi jembatan menuju masa depan yang cerah.

Selain memuliakan tradisi, Puro Pakualaman juga mengedepankan nilai kemanusiaan. Pada 4 Juni 2025, mereka menyelenggarakan kegiatan sosial bertajuk Dharma Mulyarja di Kapanewon Kokap, Kulon Progo. Kegiatan ini memusatkan perhatian pada penanggulangan stunting dan kesehatan ibu hamil.

Tim panitia membagikan 199 paket pangan bergizi kepada balita serta 139 paket serupa kepada ibu hamil dari lima kalurahan se-Kapanewon Kokap. BPH Kusumo menyatakan bahwa kegiatan ini lahir dari kepedulian yang mendalam atas kondisi gizi generasi masa depan.

“Kami tidak hanya menjaga warisan leluhur dalam bentuk budaya, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata untuk masyarakat. Pakualaman tidak bisa berdiri megah tanpa rakyat yang sehat dan sejahtera,” ujar BPH Kusumo dengan penuh semangat.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifah Fauzi, juga hadir dalam resepsi. Ia mengapresiasi langkah Puro Pakualaman yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menanamkan nilai sosial dalam perayaan sejarahnya.

Istri Sri Paduka, GKBRAyA Paku Alam, turut hadir dan menyampaikan penghormatan kepada para leluhur.

Dengan memadukan kekuatan sejarah, seni, dan kemanusiaan, Hadeging Kadipaten Pakualaman tahun ini tidak hanya menjadi peringatan. Ia menjelma menjadi pernyataan bahwa kebudayaan harus hidup, menyala, dan terus menginspirasi.

Kadipaten Pakualaman pun sekali lagi menegaskan eksistensinya sebagai pilar budaya yang tak lekang oleh waktu. (ef linangkung)

https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2025/06/photo_6255892034862827576_y.webp