Semarang, Kabar Jawa – Bagi sebagian anak, gawai mungkin masih identik dengan gim, video pendek, atau media sosial. Namun, cerita berbeda datang dari sejumlah pelajar di Jawa Tengah.
Di usia ketika sebagian teman sebayanya baru mengenal berbagai aplikasi, mereka justru mulai akrab dengan coding, robotika, keamanan siber, hingga kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Cerita mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari Boyolali, Tegal, hingga Semarang. Ada yang menemukan celah keamanan pada situs milik NASA, ada yang membawa pulang medali dari kompetisi robotika internasional, dan ada pula yang mengukir prestasi di ajang olimpiade AI tingkat dunia.
Kisah-kisah tersebut memberi gambaran bahwa minat terhadap teknologi di kalangan pelajar Jawa Tengah terus berkembang.
Dari Boyolali, Siswa SD Temukan Celah Keamanan NASA
Salah satu cerita datang dari Ibrahim Al Abrar, siswa SD Negeri 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali.
Nama Ibrahim menjadi perhatian setelah ia menemukan celah keamanan pada sistem Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA.
Temuan tersebut berkaitan dengan broken link hijacking pada tautan media sosial yang sudah tidak aktif di halaman Vulnerability Disclosure Policy (VDP) NASA.
Celah semacam itu dapat dimanfaatkan untuk berbagai tindakan penyalahgunaan apabila tidak segera ditangani. Setelah laporan Ibrahim diverifikasi oleh tim internal NASA, temuannya mendapat pengakuan.
Bagi Ibrahim, pengalaman tersebut menjadi langkah awal menuju cita-citanya sebagai seorang profesional di bidang keamanan siber.
Prestasinya juga mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang memberikan sebuah laptop sebagai bentuk penghargaan atas pencapaiannya.
Tiga Anak Tegal Bawa Pulang Medali dari Malaysia
Cerita lain datang dari tiga siswa SD Muhammadiyah Slawi, Kabupaten Tegal. Alfarezel Ghaisan Putra, Marcello Awan Raharjo, dan Asyam Shuan Alrafaeyza atau Alra, sama-sama berusia 10 tahun ketika mengikuti kompetisi robotika internasional.
Ketiganya membuat aplikasi Smart Robo Car yang digunakan untuk mengendalikan smart robot berbasis PictoBlox AI.
Persiapan mereka berlangsung sekitar tiga bulan. Hasilnya cukup menggembirakan ketika mereka mengikuti World Robotic for Peace ke-16 di Johor, Malaysia.
Tim tersebut berhasil meraih medali emas pada kategori Student Conference. Mereka juga mendapatkan medali perunggu untuk kategori Maze Solving Robot.
Bagi ketiga siswa tersebut, kompetisi bukan sekadar soal membawa pulang medali. Proses persiapan juga menjadi ruang untuk belajar bekerja sama, memecahkan masalah, dan mengubah ide menjadi sebuah karya yang bisa diuji.
Dari Semarang, Siswa Tembus Olimpiade AI Dunia
Dunia kecerdasan buatan juga menjadi arena yang membawa nama pelajar Jawa Tengah ke panggung internasional.
Matthew Hutama Pramana dari SMA Kolese Loyola Semarang berhasil meraih medali perak dalam International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI) 2025 di Beijing, China.
Pencapaian itu diraih setelah Matthew melewati proses seleksi dan pembinaan yang dilakukan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikdasmen bersama Tim Olimpiade Komputer Indonesia (TOKI).
Prestasi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran teknologi tidak berhenti pada penggunaan perangkat digital. Bagi sebagian pelajar, teknologi justru menjadi bidang yang dipelajari secara lebih serius melalui kompetisi, eksperimen, dan proyek.
AI Mulai Masuk ke Ruang Kelas
Minat terhadap AI juga mulai dikenalkan melalui kegiatan pembelajaran di sekolah.
SMA Negeri 2 Semarang menjadi salah satu sekolah yang menerapkan pembelajaran informatika dengan pendekatan berbasis AI. Para siswa tidak hanya diperkenalkan pada konsep teknologi, tetapi juga diajak mengerjakan proyek coding, mengenal machine learning sederhana, membuat prompt digital, hingga mendiskusikan etika penggunaan teknologi.
Pendekatan tersebut membuat AI tidak hanya diposisikan sebagai teknologi yang digunakan sehari-hari. Siswa juga diajak memahami bagaimana teknologi bekerja serta bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab.
YCWC 2026 Jadi Ruang Bertemu Anak-Anak Penggemar Coding
Semangat serupa terlihat dalam gelaran Local Exhibition Young Coder World Cup (YCWC) 2026 untuk wilayah Jawa Tengah-DIY.
Sekitar 250 pendaftar mengikuti proses seleksi sebelum 50 finalis terpilih untuk memamerkan karya mereka di Wisma Perdamaian, Semarang.
Ajang yang digagas Timedoor Academy tersebut mengusung tema “AI for Daily Life”. Para peserta tidak hanya menunjukkan kemampuan membuat program, tetapi juga diajak melihat bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan sehari-hari.
Ketua Panitia YCWC 2026, Rahma Asyifa, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk mengembangkan kreativitas, kolaborasi, komunikasi, sekaligus memperkuat literasi digital peserta.
Para finalis kemudian memiliki kesempatan untuk melanjutkan langkah menuju International Grand Final YCWC 2026.
Pesan untuk Anak Muda: Jangan Berhenti Jadi Pengguna
Perkembangan kemampuan para pelajar tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi. Menurutnya, kemampuan menguasai AI dapat dikembangkan untuk menghasilkan berbagai inovasi, termasuk mendukung pelayanan publik.
Gagasan tersebut menempatkan pelajar bukan hanya sebagai konsumen berbagai aplikasi yang sudah tersedia, tetapi juga sebagai calon pembuat teknologi.
Dengan kemampuan seperti coding, analisis data, robotika, dan AI, anak-anak muda memiliki ruang untuk mengembangkan solusi atas berbagai persoalan di sekitar mereka.
PINTAR DI JATENG, Upaya Menata Pendidikan Berbasis Data
Pengembangan kemampuan digital pelajar juga membutuhkan ekosistem pendidikan yang mendukung.
Balai Pengembangan Mutu Pembelajaran dan Teknologi Pendidikan (BPMPTP) Jawa Tengah memperkenalkan platform terpadu bernama PINTAR DI JATENG dalam Gebyar Pendidikan Jawa Tengah 2026 di Semarang.
Platform tersebut dirancang sebagai superapp yang menggabungkan berbagai layanan pendidikan untuk guru, siswa, dan pemangku kebijakan.
Kepala BPMPTP Jawa Tengah Kristiawan Nurdianto menjelaskan bahwa PINTAR DI JATENG juga dilengkapi fitur business intelligence berbasis AI yang dikembangkan melalui kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital.
Sistem tersebut mengolah data pendidikan bersama informasi mengenai kerentanan sosial dan tingkat kemiskinan daerah. Data itu kemudian dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi pelatihan guru berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah.
Ketika Teknologi Menjadi Ruang Bermimpi
Dari sebuah desa di Boyolali hingga panggung kompetisi internasional di Malaysia dan China, cerita para pelajar tersebut memiliki satu kesamaan: teknologi bukan sekadar sesuatu yang mereka gunakan, tetapi juga sesuatu yang mereka pelajari dan ciptakan.
Ada yang tertarik pada keamanan siber, ada yang menemukan kesenangan lewat robotika, sementara yang lain memilih mendalami AI.
Perkembangan ini sekaligus menunjukkan bahwa kesempatan untuk belajar teknologi bisa datang dari berbagai tempat. Dengan dukungan sekolah, keluarga, pemerintah, komunitas, dan ruang kompetisi yang memadai, minat tersebut dapat terus berkembang.
Pada akhirnya, cerita Ibrahim, tiga siswa dari Tegal, Matthew, dan para peserta YCWC 2026 bukan hanya tentang penghargaan atau medali. Ada proses belajar, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang mungkin sebelumnya terasa terlalu jauh.
Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, merekalah yang perlahan belajar untuk tidak sekadar mengikuti perkembangan, tetapi ikut menciptakan sesuatu di dalamnya.
https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2026/09/anak-ai-e1790558275647.webp
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.