
KabarJawa.com— Lantunan takbir menggema sejak fajar menyingsing di Dusun Mancingan, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (19/3/2026).
Suara itu tidak sekadar menandai datangnya hari kemenangan, tetapi juga menghidupkan suasana haru dan syukur dalam pelaksanaan Salat Idulfitri 2026 oleh jamaah Majelis Sholawat Asyghil Kubro.
Sejak pukul 06.00 WIB, ratusan umat muslim mulai berdatangan ke area lapang Parkir Harmoni Parangtritis.Takbir terus berkumandang, bersahutan dengan debur angin pantai yang lembut.
Momen tersebut menciptakan suasana religius yang dramatis sekaligus menenangkan, seakan menyatukan langit dan bumi dalam pujian kepada Sang Pencipta.
Lebaran Jamaah Majelis Sholawat Asyghil Kubro
Sesepuh Majelis Sholawat Asyghil Kubro, Ustad Yusuf Mustagim, menegaskan bahwa pihaknya menetapkan awal dan akhir Ramadan berdasarkan rukyatul hilal.
Ia menjelaskan bahwa tahun ini jamaah memulai Idulfitri setelah mendapatkan kabar terlihatnya hilal dari wilayah Afganistan.
“Alhamdulillah, tahun ini kita telah menyaksikan hilal. Kabar pertama datang dari Afganistan, dan yang melihat di sana telah bersumpah secara syariah,” ujar Ustad Yusuf dengan penuh keyakinan.
Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut mengikuti sabda Rasulullah yang berbunyi, “Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal.” Prinsip ini, menurutnya, menjadi pedoman utama dalam menentukan waktu ibadah.
Dengan dasar tersebut, jamaah Majelis Sholawat Asyghil Kubro memilih untuk melaksanakan Salat Id lebih awal dibandingkan sebagian umat muslim lainnya di Indonesia.
Meski tidak mencatat jumlah pasti jamaah yang hadir, Ustad Yusuf memastikan bahwa jumlah peserta Salat Id terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Ia menyebutkan bahwa pelaksanaan Salat Id tidak hanya berlangsung di Bantul, tetapi juga tersebar di beberapa titik lain di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Kita ada empat lokasi yang menyelenggarakan Salat Id hari ini. Kalau dihitung, jumlah jamaah bisa mencapai lebih dari 500 orang,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa Majelis Sholawat Asyghil Kubro tidak menerapkan sistem keanggotaan resmi. Jamaah datang secara sukarela, didorong oleh kecintaan terhadap sholawat dan keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Zakat Fitrah Sudah Ditunaikan
Sebelum melaksanakan Salat Id, seluruh jamaah telah menunaikan kewajiban zakat fitrah. Ustad Yusuf memastikan bahwa pihaknya telah mengimbau jamaah untuk membayar zakat paling lambat dua hari sebelum hari raya.
“Kami sudah menginformasikan sejak beberapa hari lalu, dan alhamdulillah jamaah telah menunaikan zakat fitrah tepat waktu,” tuturnya.
Hal ini menunjukkan kedisiplinan jamaah dalam menjalankan syariat Islam secara menyeluruh, tidak hanya dalam ibadah ritual tetapi juga dalam aspek sosial.
Lebih dari sekadar perayaan, Majelis Sholawat Asyghil Kubro memaknai Idulfitri sebagai momentum untuk memperkuat spiritualitas dan komitmen dalam menjalankan ajaran Islam.
Jamaah tidak hanya berkumpul untuk beribadah, tetapi juga memohon syafaat kepada Rasulullah dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Ustad Yusuf menegaskan bahwa tujuan utama majelis ini adalah melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan syariat Islam secara kaffah.
“Kami berharap Allah memberikan kemampuan kepada kami untuk terus melanjutkan perjuangan Rasulullah,” ungkapnya.
Perbedaan Penentuan Lebaran Jadi Keniscayaan
Ustad Yusuf juga mengakui bahwa perbedaan waktu pelaksanaan Idulfitri dengan pemerintah Indonesia kerap terjadi. Ia menyebutkan bahwa fenomena tersebut merupakan hal yang wajar karena posisi hilal tidak selalu sama di setiap wilayah.
“Kadang kita sama dengan pemerintah, kadang tidak. Semua tergantung pada terlihat atau tidaknya hilal,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa jika hilal terlihat di wilayah Indonesia, maka pihaknya akan melaksanakan Idulfitri bersamaan dengan umat muslim lainnya yang menggunakan metode rukyatul hilal.
Tepat pukul 07.00 WIB, jamaah mulai melaksanakan Salat Idulfitri secara khusyuk. Ustad Yusuf Mustagim bertindak sebagai imam sekaligus khotib, menyampaikan khutbah yang sarat makna tentang pentingnya menjaga keimanan setelah Ramadan.
Suasana hening menyelimuti area salat saat khutbah berlangsung. Jamaah mendengarkan dengan penuh perhatian.Hari itu, Parangtritis juga menjadi saksi kebersamaan, keteguhan iman, dan semangat umat dalam merayakan kemenangan.
Di tengah perbedaan penentuan hari raya, jamaah Majelis Sholawat Asyghil Kubro tetap menunjukkan satu hal yang sama: ketulusan dalam beribadah dan harapan akan ridha Ilahi. (ef linangkung)
https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2026/03/6186063533150244262.webp
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
