
KabarJawa.com— Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menutup lembar penting pembangunan jangka panjang melalui forum refleksi dua dekade RPJPD 2005–2025.
Acara ini bukan sekadar seremoni penutupan, tetapi menjadi momentum besar untuk meneguhkan capaian, nilai, dan semangat yang telah mengiringi perjalanan pembangunan selama 20 tahun terakhir.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang diwakili oleh Asisten Sekretaris Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tri Saktiyana, menegaskan bahwa dua dekade RPJPD 2005–2025 telah menjadi tonggak penting bagi transformasi wajah DIY.
“RPJPD 2005–2025 menjadi pedoman strategis yang menuntun DIY melewati berbagai fase pembangunan — mulai dari rekonstruksi pasca-gempa 2006, reformasi birokrasi, akselerasi digital, hingga pembangunan manusia yang berkelanjutan. Kini, di penghujung periode ini, kita perlu menakar capaian dengan jujur dan visioner,” ujar Tri Saktiyana.
RPJPD 2005–2025
Tri Saktiyana memaparkan bahwa selama dua dekade terakhir, DIY berhasil mencatat berbagai capaian penting di bidang pembangunan manusia.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat signifikan dari 77,59 pada tahun 2005 menjadi 84,23 pada tahun 2024. Angka ini menempatkan DIY di posisi kedua nasional, tepat di bawah DKI Jakarta.
Kualitas hidup masyarakat juga meningkat tajam. Angka Harapan Hidup warga DIY naik dari 73 tahun pada 2005 menjadi 77,6 tahun pada 2024.
Artinya, pembangunan manusia berjalan konsisten dan berkelanjutan. Kesejahteraan serta kesadaran masyarakat terhadap kesehatan juga semakin kuat.
‘Semua ini sejalan dengan visi memayu hayuning bawana — menegakkan harmoni antara manusia, alam, dan kebudayaan,” tutur Tri.
Dari sisi ekonomi, DIY mencatat pertumbuhan sebesar 5,13 persen pada tahun 2024, melampaui rata-rata nasional yang mencapai 5,05 persen.
Pencapaian ini menegaskan daya tahan dan ketangguhan ekonomi daerah dalam menghadapi tantangan global, termasuk pascapandemi dan tekanan geopolitik internasional.
Namun demikian, Tri Saktiyana mengingatkan agar capaian tersebut tidak menutup mata terhadap ketimpangan antarwilayah. Pemerataan ekonomi harus menjadi prioritas.
Pemerintah DIY tidak boleh membiarkan jarak kesejahteraan makin melebar antara kawasan urban seperti Sleman dan Kota Yogyakarta dengan wilayah selatan seperti Gunungkidul dan Kulon Progo.
Tingkat Kemiskinan Turun
Penurunan tingkat kemiskinan juga menjadi salah satu capaian monumental dalam dua dekade terakhir.
Dari angka 19,15 persen pada 2005, kini turun menjadi 10,04 persen pada 2024. Meski begitu, angka tersebut masih menjadi yang tertinggi kedua di Pulau Jawa.
“Capaian ini harus menjadi bahan refleksi. Kita tidak boleh berpuas diri. Keadilan spasial dan kesetaraan antarwilayah harus menjadi fokus utama RPJPD 2025–2045,” tegas Tri lagi.
Selama dua dekade, DIY berhasil bertransformasi dari wilayah berstruktur agraris menjadi kawasan berbasis jasa, pendidikan, dan ekonomi kreatif.
Perubahan ini menjadi bukti keberhasilan strategi pembangunan daerah yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Namun, di balik keberhasilan itu, muncul pula tantangan baru. Pemerintah DIY masih menghadapi isu strategis jangka panjang seperti ketimpangan sosial, tantangan ekologis, dan ancaman perubahan iklim.
“Semua ini membutuhkan arah kebijakan yang lebih berani dan berpihak pada keberlanjutan,” jelasnya.
Arah Baru: RPJPD 2025–2045
Menatap masa depan, RPJPD 2025–2045 akan berdiri di atas tiga fondasi utama. Pertama, transformasi digital dan hijau dengan birokrasi yang inovatif dan adaptif.
Kedua, pemerataan pembangunan wilayah melalui penguatan daya saing ekonomi selatan. Ketiga, ketangguhan budaya dan sosial agar keistimewaan Yogyakarta tetap menjadi energi moral dalam tata kelola pemerintahan.
“Forum ini bukan hanya ruang refleksi, tetapi juga ruang rekonstruksi. Kita harus mengukur pembangunan bukan sekadar dengan angka, tetapi dengan nilai, apakah pembangunan telah meneguhkan harkat manusia, menjaga bumi, dan menumbuhkan keadilan sosial,” ucap Tri.
Menutup sambutannya, Tri Saktiyana menyampaikan pesan Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X agar seluruh elemen masyarakat DIY menata keseimbangan antara kemajuan dan kebijaksanaan.
DIY akan memasuki babak baru RPJPD 2025–2045 dengan tema Jogja yang Tangguh, Lestari, dan Berdaya Saing Global.
“Mari bersama-sama menjaga keistimewaan ini sebagai kekuatan moral dan budaya dalam membangun masa depan,” tutupnya. (ef linangkung)
https://kabarjawa.com/wp-content/uploads/2025/11/6084569010654612339-1.webp
News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door

